Revolusi Industri 4.0, Sebuah harapan dan tantangan serta Cara Menyikapinya
Oleh. Ismail Marzuki, S.T., M.T. (Pengajar di SMKN 1 Panca Jaya Mesuji Lampung)

Gambar Revolusi Industri 4.0
Revolusi industri? Tentu kita sering mendengar istilah revolusi industri? Belakangan ini banyak yang membahas mengenai Revolusi Industri 4.0! Sebenarnya revolusi industri ini sudah terjadi sebanyak tiga kali dan sekarang kita memasuki tahap keempat, dimana kehidupan manusia yang di warnai dengan rekayasa genetika, teknologi nano, mobil otomatis dan era super komputer. Dan tentunya perubahan ini memiliki dampak terhadap ekonomi, pemerintahan ,politik, industri dan lainnya.
Menurut KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia), Revolusi industri adalah sebuah perubahan radikal dalam usaha mencapai produksi dengan menggunakan mesin-mesin (tenaga penggerak /tenaga pemroses).
Penyebab utama terjadinya revolusi industri karena manusia ingin mengatasi masalah-masalah yang dihadapi ketika memproduksi barang, seperti biaya yang mahal, waktu yang lama, dan hal itulah yang mendorong manusia untuk menemukan cara yang membuat produksi menjadi lebih efektif dan efisien.
Sejarah Revolusi Industri.
Revolusi Industri 1.0 periode tahun 1750-1850 dan ditandai dengan tenaga manusia digantikan oleh kehadiran mesin. Pada era ini ditemukan mesin uap untuk menggantikan tenaga otot, air, dan angin yang digunakan untuk menggerakkan apapun.
Revolusi Industri 2.0 periode akhir abad ke-19 sampai awal abad ke-20. Tenaga uap sudah mulai digantikan oleh tenaga listrik. Pada era ini terjadi perkembangan pesat pada industrialisasi dan ilmu pengetahuan, pembagian kerja, produksi massal.
Revolusi Industri 3.0 berlangsung pada akhir abad 20 dan ditandai dengan kemunculan internet dan teknologi digital yang dikenal sebagai Revolusi Digital. Pada saat itu teknologi membuat pabrik-pabrik dan industri-industri lebih memilih mesin daripada manusia. Terlebih lagi mesin canggih memiliki kemampuan dalam berproduksi lebih berlipat.
Revolusi Industri 4.0 berlangsung pada awal abad ke-21 sampai sekarang. Revolusi ini ditandai dengan adanya internet of things, big data, artificial intelligence, human machine interface, robotic dan sensor technology, 3d printing technology.
Revolusi Keempat ini yang sebetulnya paling besar. Machine learning, yaitu mesin yang memiliki kemampuan untuk belajar, yang bisa sadar bahwa dirinya melakukan kesalahan sehingga melakukan koreksi yang tepat untuk memperbaiki hasil berikutnya. Sejarah telah mencatat bahwa Revolusi Industri ini telah banyak menelan korban dengan matinya perusahaan-perusahaan raksasa.
Berikut adalah efek-efek dari Revolusi Industri 4.0
Masalah utama yang mungkin muncul akibat adanya revolusi industri 4.0 yaitu pengangguran dan kerusakan alam akibat exploitasi industri. Revolusi industri keempat yang merupakan masa adanya campur tangan sistem cerdas (AI, Artificial Intelligence) dan automatisasi dalam industri yang bekerja melalui data dengan teknologi machine learning. Perkembangan revolusi industri 4.0 di Indonesia cukup didukung oleh pemerintah, terutama Kementerian Perindustrian. Beberapa sektor industri seperti industri makanan dan minuman, semen, petrokimia, otomotif dsb dinilai telah siap menyongsong industri 4.0.
Apa saja yang perlu dilakukan bangsa ini untuk menyikapi Revolusi Industri 4.0?
Menyikapi Revolusi Industri 4.0 di Indonesia menurut Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Industri (BPPI), terdapat beberapa bidang yang harus dipersiapkan untuk menyongsong Revolusi industri 4.0, diantaranya peningkatan otomatisasi, komunikasi machine-to-machine, komunikasi human-to-machine, AI (Artificial Intelligence), serta pengembangan teknologi berkelanjutan. Untuk melakukan implementasi, terdapat empat dasar faktor penggerak, yakni peningkatan volume data, daya komputasi, dan konektivitas.
Dalam era revolusi 4.0 yang penuh dengan dunia digital, komputerisasi, serta teknologi artificial intelligence (AL) memang memiliki banyak dampak positif. Namun kita juga harus menyikapinya dengan penuh kehati-hatian dan bijak. Banyak perusahaan-perusahaan di seluruh penjuru dunia sudah mulai mengganti tenaga manusia dengan menerapkan sistem komputer. Jangankan di luar negeri, negara kita Indonesia telah menerapkan penggunaan uang elektronik (e-money) pada pembayaran tol, ataupun penggunaan aplikasi ovo pada pembayaran parkir. Selain daripada itu dengan e-money kita dapat membayar belanjaan seperti di indomaret atau alfamart. Bayangkan saja sudah berapa banyak tenaga manusia yang sudah tergantikan.
Revolusi Industri 4.0 yang terjadi di Indonesia dapat membawa Indonesia menjadi negara yang lebih berkembang dan bersaing dengan negara lain. Di sisi lain, kemajuan industri ini tidak diiringi dengan tenaga kerja yang memiliki kemampuan dan keterampilan untuk menerapkan teknologi yang semakin maju dan terus berubah. Perusahaan dituntut untuk terus menerus berinovasi untuk tetap dapat bertahan ditengah zaman revolusi industri yang secara mendasar terus berubah mengikuti pola hidup manusia. Tenaga kerja Indonesia juga perlu semakin diperlengkapi untuk memiliki skill operasional mesin dan pengetahuan dasar sehingga pengangguran di Indonesia dapat berkurang.
Apakah revolusi industri 4.0 adalah suatu ancaman?
Sebenarnya revolusi ini bisa menjadi ancaman jika kita tidak menanggapinya dengan baik. Misalnya saat Amerika Serikat menggunakan drone untuk melakukan pengeboman di Afganistan, Libya, dan Irak yang tentunya mengakibatkan banyak korban sipil, atau saat ISIS melakukan perekrutan anggota untuk melakukan teror, pengeboman, dan propaganda seperti eksekusi tanpa peri kemanusiaan.
Dampak Revolusi Industri 4.0 di Kehidupan Manusia
Tapi lain halnya jika kita menanggapi revolusi ini dengan baik, sangat banyak masalah-masalah akan terpecahkan. Dengan sistem komputerisasi, arus informasi yang lebih cepat, analisa data yang baik akan mengatasi masalah klasik seperti kelaparan, akses kesehatan yang rendah, soal pengungsi, dan masih banyak lagi.
Bagaimana Dengan Nasib Para Pekerja?
Munculnya revolusi 4.0 ini merupakan salah satu hal yang sangat ditakuti oleh para pekerja. Melihat dari negara-negara maju yang sudah banyak menggunakan robot menjadi pengganti para pekerja. Seperti di Singapura yang sudah banyak menggunakan robot sebagai pembantu rumah tangga ataupun pelayan di hotel. Dan di Indonesia proses ini sedang berlangsung.
Revolusi ini sangat di takuti oleh banyak pihak, salah satunya lembaga keuangan. Pada akhir 2017 di sebutkan bahwa lembaga keuangan gencar-gencarnya dalam pengurangan tenaga kerja. Pengurungan tersebut dikarenakan banyak karyawan yang tidak bisa bersaing dan mengikuti perkembangan teknologi. Para pekerja front office bank yang dahulunya mengatasi masalah nasabah kini telah tergantikan oleh ATM (Anjungan Tunai Mandiri) maupun mobile banking atau internet banking.
Keuntungan Revolusi Industri 4.0
Namun dibalik ancaman revolusi industri 4.0, terdapat keuntungan-keuntungan yang kita peroleh. Pada era revolusi ini banyak sekali orang yang menghasilkan uang hanya berada dalam rumah saja. Hanya bermodalkan internet saja, kita dapat menghasilkan uang. Sebagai contohnya kita dapat berjualan online, desain, sebagai penulis artikel lepas dan masih banyak hal yang dapat kita lakukan dalam memanfaatkan kemajuan teknologi sekarang. Selain dari pada itu kita dapat menyerap informasi setiap saat. Mulai dari belanja, travelling, pengetahuan, berita, transportasi dan masih banyak lagi informasi yang dapat kita peroleh. Namun jangan lupa, kita juga harus melakukan pengembangan sumber daya manusia. Revolusi industri 4.0 dapat menjadi peluang bagi kita semua. Dengan catatan kita harus menanggapinya dengan hati-hati dan bijak.
Belum ada tanggapan untuk "Revolusi Industri 4.0, Sebuah harapan dan tantangan serta Cara Menyikapinya"
Posting Komentar