Chrisye memiliki sentuhan magis dalam vocal nya yang tidak
dimiliki oleh penyanyi lain. Pria yang hari ini, Senin (16/9) genap berusia 70
tahun itu seperti diberkati untuk dapat 'memberkati' orang lain melalui
lantunan lirik. Dalam waktu puluhan tahun lagi, belum tentu akan ada Chrisye
lain.
Chrisye yang dilahirkan dengan nama Christian Rahadi sebelum
berganti menjadi Chrismansyah Rahadi, ia berkiprah sejak tahun 1970-an tak bisa
dipandang sebelah mata. Kembali ke Indonesia setelah menjejakkan kaki di New
York, AS, Chrisye langsung bekerja sama dengan Guruh Soekarnoputra untuk
merilis Guruh Gipsy.
Sebuah album idealis, amat menarik karena Guruh terbilang
sebagai seorang seniman yang selalu mengangkat kesenian Indonesia, dan album
itu lahir di era proggresive rock, era luar biasa yang mencatatkan musik Indonesia.
Setelah Lilin-lilin Kecil dirilis, Nama Chrisye dikenal
luas. Kemudian, album tema Badai Pasti Berlalu sebagai salah satu karya
terindah dalam permusikan negara ini meledak, menempatkan Chrisye di level
berbeda, yang rasa-rasanya sampai hari ini belum bisa diisi oleh penyanyi lain.
Album Lagu Debut solo Sabda Alam (1978) melibatkan nama-nama
besar pada era itu. Selain Guruh Soekarnoputra, nama Jockie Surjoprajogo tak
dapat dilewati. Chrisye berperan penting di sektor aransemen album yang juga
mengunggulkan lagu Juwita tersebut. Dalam Prosesnya Chrisye bekerja keras
menyelesaikan album itu hingga sakit.
Album Sabda Alam memiliki gaya serupa seperti Badai Pasti
Berlalu, melankolis, romansa puitis yang menonjolkan vokal halus Chrisye. Ia
terlihat seolah sudah menemukan gaya musik yang sesuai, dilengkapi gestur
canggung yang selalu melekat pada Chrisye. Ketika Chrisye menyanyikan lirik
indah seperti dalam Puspa Indah Taman Hati, segala keanehan itu jadi tak
penting.
Selama hidup Chrisye telah merilis puluhan album, juga
pernah berakting dalam film Seindah Rembulan (1981). Setelah era progressive
rock berlalu, Chrisye pun mengubah musiknya menjadi nada new wave sesuai tren
saat itu.
Aku Cinta Dia (1985) memperdengarkan irama berbeda dari
Chrisye, era di mana ia bekerja sama untuk pertama kalinya dengan Adjie Soetama
dan sekali lagi, ia mencatat perubahan musikal lain.
Bisa jadi, hal itu membantu Chrisye bertahan. Sejak awal ia
tampak dikelilingi orang-orang berpikiran terbuka dan tak keberatan dengan
perubahan. Chrisye sempat berkolaborasi dengan musisi yang berbeda generasi dengannya,
seperti Peterpan yang sekarang bernama NOAH, Ungu, NAIF, sampai Project Pop dan
Ahmad Dhani.
Kolaborasi beda generasi tersebut pun meraih sukses. Chrisye
berhasil mendapatkan pendengar baru, yang belum tahu rekam jejaknya bersama
Guruh Soekarnoputra. Satu kolaborasi menarik lainnya yang pernah dilakukan
Chrisye dan pada akhirnya menjadi klasik, adalah bersama aktris Sophia Latjuba.
Kolaborasi Sophia Latjuba dan Chrisye itu terjadi dua kali, lewat lagu Kangen
dan Anggrek Bulan.
Dalam Usia 25 tahun karier, Chrisye membuktikan musik bisa
terdengar begitu kaya seperti yang ia tampilkan melalui kolaborasi dan
album-album solonya. Suara Chrisye selalu konstan tidak pernah mengalami perubahan,
demikian juga gaya canggungnya, namun musiknya bisa menjangkau banyak telinga
setelah bertahun-tahun.
Pada Tanggal 30 Maret 2007, Chrisye meninggal dunia di usia
57 tahun. Saat ia berpulang karena kanker paru-paru, Indonesia tak hanya
kehilangan seorang penyanyi. Indonesia kehilangan sebuah aset yang barangkali,
tak tergantikan. Tak perlu pula mencari pengganti Chrisye, karena segala yang
telah dipersembahkannya sudah lebih dari cukup, lantunan lirik indah yang tetap
bisa menyentuh rasa.
Artikel keren lainnya:
Belum ada tanggapan untuk "Chrisye, Penyanyi Fenomenal yang Eksentrik"
Posting Komentar